1 bulan masa karantina demi berjayanya prestasi sepak bola yang telah lama entah kemana telah terlewati, panas,lelah, dan menghitamnya kulit mereka terkalahkan karena kebanggan menggunakan kaos berlamabang garuda. terkadang, beberapa dari mereka menambah jadwal latihan hanya karena mereka tidak mau menjadi beban pada saat pertandingan.
kesungguhan mereka terbayar, mereka berhasil lolos hingga babak semifinal. kini mereka berhadapan dengan negara serumpun, satu bahasa, bahkan satu nenek moyang. pertandingan antara kedua negara ini bukan hanya gol atau menang kalah, tetapi telah mencapai titik sentimen bangsa. mereka bermain spartan, seolah energi mereka melebihi kuda pacuan ataupun kuda saat perang puputan. 3 menit sebelum selesai, mereka lenggah, mereka kebobolan. para pemain yang rata2 bertinggi 140cm itu pun tertunduk lesu, mereka merasa bersalah dan merasa sia2 berlatih hingga menantang panasanya matahari.
banyak dari mereka menanggis di bangku pemain cadangan, mereka menanggis sesunggukan bahkan saat mereka hendak menghibur satu yang lain hanya suara nafas yang putus-putus yang terdenggar. ada yang menutup muka dalam baju sambil berkata lirih seolah ingin meminta maaf kepada garuda karena gagal menciptakan reuni antara garuda dengan kejayaan masa lalu.
mereka terus meratapi kesedihan sampai pelatih yang sudah mereka anggap sebagai ayah sendiri berkata "bagi saya kalian tetaplah juara, sekarang usap air mata mu dan berdiri, bukankah kita akan menciptakan reuni antara garuda dengan kejayaan?"




